Dinas Pertanian Luwu Timur Perkuat Dukungan Air Irigasi untuk Lahan Pertanian

Asmar Alam PEMKAB LUWU TIMUR 09 Juli 2026 8 kali Dinas Pertanian Luwu Timur Perkuat Dukungan Air Irigasi untuk Lahan Pertanian Foto: Istimewa

Makassar, celebesaktual.id - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur menempatkan ketersediaan air sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Dukungan tersebut diperkuat melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang telah selesai dikerjakan di tiga titik wilayah Kecamatan Angkona.

Hasil pembangunan JIAT tersebut diterima Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Dr. Heriantono Waluyadi, dalam kegiatan penyerahan hasil pekerjaan di Ruang Rapat Bili-Bili BBWS Pompengan Jeneberang, Makassar, Kamis (9/7/2026). Penyerahan dilakukan bersama sembilan kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Yusran, serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur, Subhang.

Bagi sektor pertanian Luwu Timur, pembangunan JIAT menjadi bagian dari penguatan infrastruktur pendukung produksi, khususnya bagi lahan yang menghadapi keterbatasan sumber air. Sumur bor dapat menjadi sumber pasokan air saat musim kemarau maupun pada kawasan pertanian yang memiliki akses air terbatas.

Tiga titik JIAT yang dibangun pada 2025 berada di Desa Lamaeto sebanyak dua titik dan Desa Balirejo satu titik, Kecamatan Angkona. Pembangunan tersebut memiliki nilai pagu fisik sebesar Rp5,4 miliar.

Program ini merupakan tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk mendukung Swasembada Pangan Tahun Anggaran 2025.

Pemkab Luwu Timur memanfaatkan Sistem Informasi Program Usulan Irigasi (SIPURI) untuk mengusulkan pembangunan infrastruktur irigasi kepada pemerintah pusat. Melalui sistem tersebut, pemerintah daerah dapat mengajukan kebutuhan pembangunan sumur bor maupun JIAT berdasarkan kondisi wilayah pertanian.

Bupati Irwan Bachri Syam mengatakan keberadaan JIAT memberi dukungan langsung terhadap kebutuhan air bagi petani.

“Melalui program ini, pemerintah daerah dapat mengusulkan lokasi pembangunan sumur bor atau Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Untuk tahun 2025, Kabupaten Luwu Timur memperoleh tiga titik pembangunan, yakni dua titik di Desa Lamaeto dan satu titik di Desa Balirejo, Kecamatan Angkona, dengan nilai pagu fisik sebesar Rp5,4 miliar,” ujarnya.

Penguatan infrastruktur pertanian melalui JIAT juga berlanjut dalam usulan program 2026. Pemkab Luwu Timur mengajukan enam titik pembangunan baru, terdiri atas dua titik di Kecamatan Wotu, dua titik di Kecamatan Wasuponda, dan dua titik di Kecamatan Towuti. Total nilai usulan tersebut mencapai Rp10 miliar.

Usulan itu telah melalui proses verifikasi oleh BBWS Pompengan Jeneberang dan pemerintah pusat. Penambahan titik irigasi air tanah dinilai penting untuk memperluas dukungan infrastruktur air pada kawasan pertanian di Luwu Timur.

Sementara itu, Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Dr. Heriantono Waluyadi, menjelaskan pembangunan JIAT 2025 merupakan hasil dari usulan pemerintah daerah melalui SIPURI yang telah disetujui pemerintah pusat. Pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dan diselesaikan dalam tahun yang sama.

Setelah pembangunan selesai, pengelolaan dan pemeliharaan jaringan menjadi bagian penting agar fasilitas dapat terus dimanfaatkan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan sumber energi untuk mengoperasikan sistem irigasi.

Heriantono menyebut setiap titik JIAT memiliki skema sumber energi yang disesuaikan dengan kondisi lokasi. Sebagian menggunakan tenaga surya, sebagian lainnya menggunakan listrik, dan terdapat pula jaringan yang memadukan kedua sumber energi tersebut.

Dengan tambahan infrastruktur tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Luwu Timur memiliki dukungan baru dalam menjaga ketersediaan air bagi kawasan pertanian. Infrastruktur JIAT sekaligus menjadi salah satu penopang pengelolaan lahan pertanian agar aktivitas budidaya tetap berjalan ketika ketersediaan air permukaan mengalami penurunan.

clm-8