Musim Kemarau Mulai Terasa di Luwu Timur, BPBD Minta Desa Aktif Melapor

Asmar Alam PEMKAB LUWU TIMUR 12 Juli 2026 7 kali Musim Kemarau Mulai Terasa di Luwu Timur, BPBD Minta Desa Aktif Melapor

Luwu Timur, celebesaktual.id - Musim kemarau 2026 mulai terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Luwu Timur. Intensitas hujan yang menurun dalam beberapa pekan terakhir membuat debit air di sejumlah sungai dan saluran irigasi ikut menyusut. Kondisi serupa mulai terlihat pada lahan pertanian tadah hujan yang sebagian mulai mengalami kekeringan.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan. Kondisi itu dapat meningkatkan risiko kekurangan air, gangguan pada sektor pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur menyebut belum menerima laporan mengenai dampak kekeringan dari pemerintah desa.

Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, dr. April, mengatakan pemantauan terus dilakukan dengan melibatkan pemerintah desa. Ia juga telah meminta desa segera menyampaikan laporan jika mulai menemukan tanda-tanda kekeringan yang berdampak terhadap masyarakat.

“Sampai saat ini belum ada laporan dari desa. Di grup desa, saya sudah minta agar segera dari desa melaporkan bila ada tanda-tanda kekeringan dan dampaknya,” ujar dr. April, Minggu (12/7/2026).

Menurutnya, laporan dari tingkat desa menjadi penting untuk mengetahui kondisi riil di lapangan. Informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan, terutama jika kekeringan mulai mengganggu kebutuhan air bersih, pertanian, atau aktivitas warga.

BMKG sendiri mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi periode kemarau dengan mengatur penggunaan air, memaksimalkan sumber air yang masih tersedia, serta menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi cuaca.

Bagi Luwu Timur, pemantauan kondisi desa menjadi salah satu titik penting untuk membaca perkembangan dampak kemarau. Perubahan debit sungai, ketersediaan air untuk irigasi, serta kondisi lahan pertanian dapat menjadi indikator awal sebelum persoalan berkembang menjadi krisis air.

Sampai saat ini aktivitas masyarakat Luwu Timur masih berlangsung normal. Belum terdapat laporan resmi terkait krisis air bersih maupun gagal panen yang disebabkan oleh musim kemarau.

Meski dampak serius belum tercatat, kondisi cuaca yang lebih kering membuat pemantauan lapangan tetap menjadi perhatian. Pemerintah desa diminta tidak menunda pelaporan apabila mulai ditemukan persoalan air atau dampak lain yang berkaitan dengan kemarau. ***

clm-8