Luwu Timur, celebesaktual.id - Suasana Pasar Ramadhan di Anjungan Sungai Malili, Kecamatan Malili, mendadak berubah lebih hangat dan penuh warna saat Irwan Bachri Syam hadir bersama keluarganya, Senin (16/3/2026). Namun, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial—melainkan momen interaksi yang terasa lebih personal antara pemimpin daerah dan masyarakatnya.
Di tengah deretan sekitar 70 stand kuliner, Bupati Irwan memilih menyatu sebagai “pembeli biasa”. Ia menyusuri lapak demi lapak, berhenti, berbincang, bahkan sesekali bercanda dengan para pelaku UMKM. Pertanyaan sederhana seperti “Lancar dan habis jualannya?” menjadi pembuka dialog yang mencairkan suasana.
Bagi para pedagang, kehadiran ini bukan hanya soal perhatian, tetapi juga pengakuan bahwa usaha kecil mereka memiliki arti dalam denyut ekonomi daerah. Beberapa pelaku UMKM mengaku merasa lebih termotivasi karena melihat langsung dukungan pemerintah terhadap aktivitas mereka selama Ramadhan.
Namun yang membuat kunjungan ini berbeda adalah ketika peran Bupati berubah dari pengunjung menjadi penghibur. Tanpa protokoler yang kaku, Irwan naik ke panggung hiburan dan menyumbangkan lagu untuk masyarakat. Aksi spontan ini langsung mengundang sorak sorai dan tepuk tangan dari pengunjung yang tengah menanti waktu berbuka.
Pasar Ramadhan di Anjungan Sungai Malili tahun ini memang tidak hanya menjadi pusat kuliner, tetapi juga ruang interaksi sosial dan hiburan. Live musik yang tersedia memberi kesempatan bagi masyarakat untuk tampil dan mengekspresikan diri, menjadikan pasar ini lebih dari sekadar tempat transaksi.
Di balik kemeriahan tersebut, ada dinamika ekonomi yang bergerak. Dari kue tradisional hingga makanan siap saji, seluruh produk yang ditawarkan menjadi bagian dari ekosistem usaha lokal yang tumbuh selama bulan suci. Pasar ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga peluang ekonomi yang nyata.
Kunjungan Bupati Irwan, dengan pendekatan yang santai dan membumi, memperlihatkan sisi lain kepemimpinan, yang tidak hanya hadir untuk melihat, tetapi juga merasakan, berinteraksi, dan bahkan menghibur. Sebuah potret kecil tentang bagaimana ruang publik seperti pasar bisa menjadi titik temu antara pemerintah dan masyarakat dalam suasana yang lebih setara dan manusiawi. ***