Politik adalah urusan untuk mendistribusikan keadilan, membagi keadilan, dan selama keadilan itu tidak kita peroleh, maka hak kita untuk mempersoalkan mereka yang merampok keadilan itu. Ada kepentingan kita untuk masa depan, tapi masa depan kita adalah hak kita untuk memperoleh lapangan kerja. Hak kita untuk memastikan bahwa demokrasi tidak boleh diselewengkan hanya untuk kepentingan para elit politik. Hak kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti apa? Memberi asupan kemudahan untuk anak-anak kita, adik-adik kita, agar memperoleh pendidikan yang layak, yang pantas, demi menciptakan SDM yang mampu bersaing di berbagai sektor.
Kita tidak boleh tertinggal. Kita kaya dengan kreativitas, dan tidak boleh ada halangan yang mencacatkan cita-cita regenerasi bangsa. Kita kawal soal beasiswa untuk anak-anak berprestasi, serta memberdayakan para atlet di daerah agar mampu bersaing di kancah nasional hingga internasional.
Saya bukan politisi, saya seorang penulis novel. Tapi saya terlibat dalam politik karena saya pikir politik itu mesti diasuh dengan force of the better argument, artinya siapa yang punya argumen terbaik, dialah yang berhak mengajukan itu sebagai dalil, dan tidak boleh ada sentimen di dalamnya. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berbicara tanpa adanya intimidasi.
Kata Rocky Gerung, 'Sopan santun adalah bahasa tubuh, pikiran tidak memerlukan sopan santun karena pikiran yang disopan-santunkan dalam politik itu artinya kemunafikan.' Jadi, poinnya adalah, semua yang terjun bebas ke politik adalah orang-orang yang sedang memperjuangkan sesuatu, baik itu secara personal untuk dirinya sendiri ataupun mewakili secara umum.
Pilkada adalah momentum di mana tidak hanya para paslon yang menggebu-gebu, tapi seluruh masyarakat wajib ikut berseru. Kita tidak boleh alergi terhadap politik. Kita harus menjadi orang yang cermat, yang tanggap. Mengkritisi pemerintah adalah hak kita sebagai bagian dari demokrasi 'dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.'
Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita semua.
Oleh: Sinar Mentari
Berikan Komentar