celebesaktual.id — "Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik tidak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, dan harga rumah, semuanya bergantung pada keputusan politik. Orang bisa bangga bahwa ia anti-politik. Padahal itu pemikiran bodoh, karena ketidaktahuan terhadap politik menyebabkan banyak masalah seperti pelacuran, anak terlantar, hingga korupsi."
– Bertolt Brecht
Semakin rendah kesadaran politik masyarakat, semakin mudah bagi para aparat untuk memanipulasi politik agar mereka tidak kehilangan kekuasaan.
Oleh karena itu, kita harus lebih jeli dalam berpikir dan mengolah rasa di kepala, karena otak tidak seperti perut yang mengingatkan ketika isinya mulai kosong.
“Saya akan bangun jembatan, padahal dia tahu tidak ada sungai di seberang sana. Jadi, untuk apa membangun jembatan? Ini adalah ideologi yang mustahil. Tapi kita termakan seolah-olah jembatan itu memang harus dihadirkan.”
Dalam perang, kita hanya bisa terbunuh sekali, tetapi dalam politik kita bisa "mati" berkali-kali. Betapa dungu kita hari ini dengan konsep bahwa jika kita berbohong kepada pemerintah itu adalah kejahatan, tetapi jika mereka berbohong kepada kita, itu disebut politik. Pemerintah itu pandai dalam satu hal: Dia mematahkan kakimu, lalu memberi tongkat sambil berkata, “Lihatlah, kalau bukan karena pemerintah, kamu tidak akan bisa berjalan.”
Pemilu bukan hanya tentang memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa. Jangan biarkan mereka yang haus kekuasaan memonopoli raga kita, suara kita, bahkan hak-hak kita!
Salah satu hukuman karena menolak berpartisipasi dalam politik adalah bahwa kita akhirnya diperintah oleh orang yang tidak kompeten.
Konsep kepemimpinan yang kita butuhkan hari ini bukanlah pemimpin yang memberi kita ikan saat kita kelaparan agar kita tidak mati, tetapi pemimpin yang memberi kita kail dan pancing agar kita bertahan dan tidak lagi mati kelaparan.
Oleh: Sinar Mentari (Penulis Novel)