Pertambangan Tak Mesti Merusak, PT Vale Membuktikannya

PLTA Balambano

celebesaktual.id - MALILI, Pada ujung timur Pulau Sulawesi, tepatnya di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, ada sebuah praktik pertambangan yang menarik perhatian banyak pihak. PT Vale Indonesia Tbk, yang telah beroperasi selama lebih dari lima dekade, menunjukkan bahwa industri pertambangan tidak selalu merusak lingkungan. Praktik yang dijalankan oleh PT Vale ini bahkan menjadi contoh bagaimana perusahaan bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian alam.

 

Pj Gubernur Sulsel, Zudan Arif Fakhrulloh, melakukan kunjungan ke area operasi PT Vale beberapa waktu lalu, untuk menyaksikan secara langsung aktivitas pertambangan yang berlangsung di sana. Zudan berkeliling melihat proses penambangan dan tidak lupa meninjau kawasan reklamasi yang dilakukan perusahaan di lahan bekas tambang. Zudan bahkan berkesempatan untuk berkeliling Danau Matano, danau terdalam di Asia yang juga merupakan salah satu yang terdalam di dunia. Dengan menumpang rakit, Zudan mengecek kondisi ekosistem perairan dan menyatakan bahwa air Danau Matano masih sangat jernih dan aman bagi masyarakat sekitar.

 

Selain itu, Zudan juga menilai hutan dan flora fauna yang ada di sekitar lokasi tambang sangat terjaga. “Dua hari ini saya membuktikan, pertambangan tidak mesti merusak. Saya melihat keberhasilan PT Vale tetap menjaga ekosistem di tengah dunia pertambangan yang keras,” ujar Zudan setelah kembali dari kunjungannya. Ia mengapresiasi komitmen perusahaan dalam mengelola alam dan keberlanjutan bisnisnya.

 

 

Tantangan dan Realitas Lingkungan

Meskipun menuai banyak pujian, pertambangan tetap memiliki dampak lingkungan yang harus dikelola dengan hati-hati. Slamet Riadi (Kepala Departemen Riset & Keterlibatan Publik WALHI Sulawesi Selatan) dalam pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan PT. Vale Indonesia, Tbk pada 28-30 November 2024 lalu memaparkan data dari WALHI menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan mengalami degradasi hutan seluas 85.270 hektare sejak 2001 hingga 2022. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di provinsi ini juga memprihatinkan, dengan hanya 38 dari 139 DAS yang dinyatakan sehat.

 

Polusi udara akibat partikel halus (PM 2.5) menjadi ancaman lain. Dokter spesialis paru, Dr. Garinda Alma Duta, menyatakan bahwa paparan partikel ini dapat menyebabkan penyakit kronis seperti kanker paru-paru dan kematian dini. Tantangan ini menuntut perusahaan seperti PT Vale untuk terus berinovasi dan menerapkan teknologi ramah lingkungan.


 

Kolaborasi untuk Masa Depan

Dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024, PT Vale menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan dengan menjalin kemitraan strategis, seperti joint venture bersama Ford. Kolaborasi ini bertujuan mendukung transisi energi hijau, salah satunya dengan memproduksi nikel untuk baterai kendaraan listrik.

 

Direktur Keberlanjutan PT Vale, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa mineral kritis harus dikelola secara bertanggung jawab untuk mendukung masa depan energi terbarukan di Indonesia. “Keberlanjutan adalah peluang besar. Kami memandang setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berinovasi,” ujarnya.

 

 

Praktik Pertambangan Berkelanjutan

PT Vale Indonesia, di bawah kepemimpinan CEO Febriany Eddy, memang telah menjadikan keberlanjutan sebagai nilai inti dalam setiap langkah operasionalnya. Dalam wawancaranya, Febriany menekankan bahwa setiap divisi dalam perusahaan memiliki pedoman yang jelas untuk menjaga alam dan melindungi lingkungan. “Kita terus memperlihatkan bahwa tambang bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Tambang bisa menghadirkan kesejahteraan dengan tetap menjaga ekosistem,” ujar Febriany.

 

Komitmen PT Vale terhadap keberlanjutan ini telah membawa hasil nyata, salah satunya adalah kontribusi terhadap pembangunan ekonomi lokal. Bupati Luwu Timur, Budiman, mengungkapkan bahwa Vale telah menyumbang sekitar Rp600 miliar untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Luwu Timur. Hal ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga mencapai angka 9,22 persen.

 

Selain itu, PT Vale juga terus mendukung perkembangan sosial masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Di bidang pendidikan dan kesehatan, perusahaan ini telah memberikan kontribusi yang signifikan, di mana masyarakat setempat merasakan dampaknya langsung.

 

 

Keberhasilan Program Lingkungan dan Sosial



Vanda Kusumaningrum, Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia Tbk, mengungkapkan bahwa keberlanjutan adalah inti dari operasional perusahaan. PT Vale secara aktif memantau kualitas air di Sungai Bahopenila untuk memastikan tidak terjadi lonjakan TSS (Total Suspended Solids) bahkan saat musim hujan. “Kami percaya bahwa tambang harus hidup berdampingan dengan alam dan masyarakat. Nilai ini kami wujudkan melalui praktik terbaik dan investasi dalam teknologi ramah lingkungan,” jelas Vanda pada pelatihan jurnalistik beberapa hari lalu.

 

PT Vale juga menggunakan Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) berbasis ISO 14001:2015 dan prinsip pengelolaan tambang berkelanjutan dari International Council on Mining and Metals (ICMM). Komitmen ini diwujudkan dengan reklamasi lahan bekas tambang seluas 3.703,6 hektar pada tahun 2023.

 

 

Penghargaan dalam Keberlanjutan

Keberhasilan PT Vale dalam mengelola keberlanjutan di industri pertambangan juga mendapatkan pengakuan luas. Baru-baru ini, PT Vale meraih lima penghargaan dalam ajang Indonesian SDGs Award (ISDA) 2024 yang diselenggarakan oleh Corporate Forum for CSR Development (CFCD). Penghargaan ini diberikan atas kontribusi perusahaan dalam mendukung tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yang meliputi tiga pilar utama: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

 

Dalam ajang tersebut, PT Vale meraih penghargaan untuk kategori SDGs 2.2 (Pilar Pembangunan Sosial, Silver), SDGs 8.3 dan SDGs 9 (Pilar Pembangunan Ekonomi, Gold dan Silver), serta SDGs 14 dan SDGs 15 (Pilar Pembangunan Lingkungan, Silver dan Gold). Program-program unggulan yang dijalankan oleh PT Vale, seperti pencegahan stunting, peningkatan peluang usaha untuk UMKM dan petani, serta konservasi ekosistem laut dan darat, menjadi bagian integral dari upaya perusahaan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

 



Direktur External Relations PT Vale, Endra Kusuma, mengungkapkan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pihak yang terlibat, baik karyawan, pemerintah, maupun masyarakat. “Apa yang telah dijalankan selama ini sejalan dengan misi perusahaan, mengubah sumber daya alam untuk kesejahteraan dan pembangunan berkelanjutan. Ini adalah modal penting dalam kemitraan yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Beberapa inisiatif PT Vale yang diikutsertakan dalam ISDA 2024 meliputi:

  • Pilar Sosial: Program pencegahan stunting dan wasting syndrome.
  • Pilar Ekonomi: Sakti Woliko, program peningkatan peluang usaha bagi masyarakat yang memberdayakan UMKM, petani, serta pemuda, termasuk penyandang disabilitas.
  • Introduksi Teknologi Tepat Guna (TTG) seperti alat empos tikus untuk membantu petani.
  • Pilar Lingkungan: Konservasi ekosistem laut melalui proyek Restoration and Conservation Marine Environment Malili.
  • Konservasi darat berbasis masyarakat, seperti pengembangan Kawasan Agrowisata Pondata di Desa Tabarano dengan membudidayakan nanas di lahan kritis seluas 10 hektar.

 

Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, mengapresiasi pendampingan PT Vale dalam pengembangan agrowisata. “Alhamdulillah berkat pendampingan PT Vale, lahan kami sudah produktif dan menghasilkan tidak saja mampu mempertahankan buah nanas yang menjadi ciri khas daerah ini tapi juga membuka lapangan usaha dan kerja baru. Khususnya bagi ibu-ibu dan bapak-bapak di daerah kami,” ungkapnya.

 

Ajang Indonesian SDGs Award 2024 yang mengusung tema Toward ESG and CSV Leadership for Sustainable Business Excellence memberikan penghargaan bagi perusahaan yang menjalankan praktik CSR terbaik berbasis SNI ISO 26000:2013.

 

Prof. Hardinsyah, Ketua Komite Penilai ISDA 2024 sebelumnya menjelaskan, pelaksanaan ISDA 2024 bertujuan untuk memiliki lima tujuan seperti pertama mensosialisasikan dan menginternalisasikan CSR berbasis SNI ISO 26000:2013 sebagai panduan Tanggung Jawab Sosial dan SDGs di Indonesia.

 

“Ajang ini memberikan apresiasi bagi organisasi baik perusahaan yang telah melaksanakan praktik CSR terbaik dan praktik program SDGs perusahaan, sekaligus sebagai upaya untuk memberikan rekomendasi kepada peserta untuk menyempurnakan pengintegrasian pelaksanaan tanggung jawab sosial CSR dan program SDGs perusahaan yang berkelanjutan,”jelasnya.

 

 

Upaya Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam

Salah satu contoh nyata dari komitmen PT Vale terhadap keberlanjutan adalah upaya konservasi yang dilakukan di kawasan pesisir dan laut, serta program-program rehabilitasi lahan pasca tambang. Salah satunya adalah pengembangan Kawasan Agrowisata Pondata di Desa Tabarano, yang berhasil mengubah lahan kritis menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, mengapresiasi pendampingan PT Vale dalam mengembangkan agrowisata tersebut. “Berkat pendampingan PT Vale, lahan kami sudah produktif dan menghasilkan, tidak hanya mempertahankan buah nanas yang menjadi ciri khas daerah ini tetapi juga membuka lapangan usaha bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

 

Dalam mendukung kelestarian lingkungan, PT Vale juga melakukan pemantauan kualitas air secara berkala di sungai-sungai yang terhubung dengan kawasan operasional mereka, seperti Sungai Bahopenila. Perusahaan ini memanfaatkan teknologi untuk memastikan bahwa aktivitas pertambangan tidak mengganggu kualitas air dan ekosistem yang ada di sekitar.

 

 

Tantangan Keberlanjutan di Sulawesi Selatan

Namun, meskipun PT Vale telah berhasil menjalankan praktik pertambangan yang berkelanjutan, tantangan besar tetap ada. Sulawesi Selatan, sebagai lokasi utama operasi PT Vale, menghadapi peningkatan kejadian bencana ekologis yang signifikan. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama dekade terakhir, wilayah ini mengalami lonjakan jumlah bencana yang mencapai lima kali lipat. Hutan yang menjadi penyangga alam semakin berkurang, dengan sekitar 85.270 Ha hutan hilang antara 2001 hingga 2022.

 

Kondisi ini mengancam ekosistem lokal dan memperburuk potensi bencana alam. Salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan ini adalah deforestasi yang disebabkan oleh sektor pertambangan dan pembangunan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sulawesi Selatan juga mengalami kerusakan, dengan hanya 38 dari 139 DAS yang masih sehat.

 

 

Komitmen PT Vale di Tengah Tantangan

Menghadapi tantangan ini, PT Vale terus berupaya untuk mengurangi dampak operasionalnya terhadap lingkungan. Perusahaan ini berkomitmen untuk menjalankan operasi yang ramah lingkungan dengan mematuhi standar internasional dan mengimplementasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasionalnya.

 

Febriany Eddy, CEO PT Vale, mengungkapkan bahwa meskipun tantangan besar menghadang, perusahaan akan terus berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon, menjaga keanekaragaman hayati, serta memastikan keberlanjutan pasca tambang. PT Vale bahkan telah menetapkan target ambisius untuk mencapai emisi karbon bersih nol pada tahun 2050 dan menurunkan emisi hingga 33% pada tahun 2030.

 

 

Mimpi Energi Hijau Indonesia

Dalam konteks global, Indonesia berada di garis depan dalam upaya transisi energi hijau. PT Vale berperan penting dalam mendukung ekonomi rendah karbon melalui produksi mineral kritis yang dibutuhkan untuk teknologi energi terbarukan. PT Vale telah menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan global, seperti Ford, dalam upaya pengembangan energi hijau.

 

Keberlanjutan adalah bagian integral dari strategi PT Vale dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) menjadi dasar dari semua kebijakan perusahaan. Melalui upaya ini, PT Vale tidak hanya berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi contoh bagi industri pertambangan global dalam menjalankan praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

 

 

Kesimpulan 

PT Vale Indonesia membuktikan bahwa pertambangan tidak harus merusak lingkungan, dengan menampilkan praktik pertambangan yang berkelanjutan dan berorientasi pada keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian alam. Beroperasi lebih dari lima dekade di Sorowako, perusahaan ini telah berhasil menjaga ekosistem lokal, termasuk Danau Matano yang jernih, serta hutan dan flora fauna di sekitarnya. Selain menjaga alam, PT Vale juga memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi lokal, seperti menyumbang Rp600 miliar untuk APBD Luwu Timur, yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

 

Komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan tercermin dalam berbagai penghargaan yang diterima, seperti Indonesian SDGs Award 2024, berkat program-programnya yang meliputi pencegahan stunting, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta konservasi ekosistem. PT Vale juga aktif dalam rehabilitasi lahan pasca tambang dan pengembangan kawasan agrowisata yang memberdayakan masyarakat setempat.

 

Namun, tantangan lingkungan di Sulawesi Selatan tetap ada, termasuk bencana ekologis dan deforestasi yang memperburuk kondisi alam. Meski begitu, PT Vale berkomitmen untuk mengurangi dampak ekologisnya dengan target emisi karbon bersih nol pada 2050, serta mendukung transisi energi hijau melalui pengembangan mineral kritis untuk teknologi energi terbarukan.

 

Secara keseluruhan, PT Vale Indonesia menjadi contoh nyata bahwa pertambangan dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelestarian alam, dan perusahaan ini menunjukkan bahwa industri pertambangan dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial sambil menjaga keberlanjutan lingkungan. (tfk)


Sumber: PT.Vale (Pelatihan Jurnalistik)

Foto: PT. Vale


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin