Petani Tambak Keluhkan Kelangkaan Pupuk, Ini Jawaban Akbar

celebesaktual.id — MALILI, Di bawah terik matahari yang menyinari tepian Muara Sungai Malili, Akbar Andi Leluasa melintasi sungai dengan speedboat selama 30 menit menuju rumah tambak H. Tobba, salah satu tokoh masyarakat pesisir. Kedatangannya untuk memenuhi undangan H. Tobba sekaligus bertemu para petani tambak yang berkumpul di sana, saat salah satu petak empangnya sedang dalam proses panen, Rabu (23/10). 


Setibanya di rumah tambak, Akbar tidak bisa menyembunyikan keakraban yang dirasakannya. Ia mengenang masa mudanya dengan bercanda ringan kepada para petani. "Saya terbiasa dengan suasana empang seperti ini karena dulu waktu sekolah, bila kena sanksi oleh Opu (ayahnya), saya diasingkan di empang di Handil Kutai, bisa sampai satu minggu lamanya," ujar Akbar sambil tersenyum, mengundang tawa dari para petani yang mendengarnya.


Namun, diskusi segera beralih ke permasalahan serius yang dihadapi para petani tambak. Agus, salah seorang perwakilan petani, mengungkapkan keluhan mengenai kelangkaan pupuk dan penghapusan kuota pupuk subsidi bagi petani tambak. “Pupuk adalah kebutuhan utama kami, karena kami belum bisa menggunakan pakan ikan. Kami mengandalkan pupuk untuk menyuburkan perairan dan memastikan nutrisi ikan serta udang terpenuhi,” jelas Agus dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran, disambut anggukan setuju dari petani lainnya.


Akbar dengan tenang merespons aspirasi tersebut. Ia memaparkan realitas yang dihadapi para petani tambak di Indonesia, khususnya di Luwu Timur. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi adalah dihapuskannya kuota pupuk subsidi, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi. "Penghapusan subsidi pupuk ini menjadi tantangan besar bagi petani tambak, yang harus mencari alternatif atau mengurangi kualitas produk mereka," jelasnya.


Selain itu, Akbar juga menyoroti konflik pertanahan yang sering dialami oleh petani tambak, terutama terkait status lahan yang mereka kelola di kawasan pesisir. Banyak lahan yang tumpang tindih dengan aturan kehutanan atau dianggap sebagai kawasan lindung, membuat para petani kesulitan mendapatkan kepastian hukum. 


Di sisi lain, masalah infrastruktur juga menjadi hambatan besar bagi petani tambak. Akses yang sulit dan terbatasnya fasilitas seperti jalan, dan sistem irigasi membuat produksi dan distribusi hasil tambak menjadi semakin mahal dan kompleks.


"Masalah pupuk ini memang terkait kebijakan nasional, jadi ruang gerak pemerintah daerah terbatas. Namun, Insya Allah, Budiman-Akbar tetap berkomitmen untuk mendukung petani tambak. Kami akan melanjutkan program bantuan sarana produksi, seperti bibit ikan, udang, dan rumput laut, yang sudah berjalan selama ini," ungkap Akbar penuh semangat, menambahkan bahwa infrastruktur wilayah tambak, seperti jembatan penghubung, saluran tambak dan jalan tani, juga akan ditingkatkan.


Akbar menjelaskan bahwa upaya konkret sudah dilakukan. Bupati Budiman telah memulai diskusi dengan pabrik pupuk untuk mencari solusi agar kelangkaan pupuk di Luwu Timur bisa segera diatasi. "Mari kita berjuang bersama, saling mendukung dan mendoakan agar segala usaha kita diridhoi Tuhan," pungkasnya dengan harapan besar, disambut semangat dari para petani tambak yang hadir.


Di tengah suasana yang hangat dan penuh harapan, diskusi kecil itu memberi secercah optimisme bagi para petani tambak di pesisir Luwu Timur. ***